Senin, 05 April 2010

Sejarah Filsafat (I) FIlsafat Barat

Manusia, masyarakat, kebudayaan dan alam sekitar memiliki hubungan yg erat. Keempat unsur inilah yg menyusun dan mengisi sejarah filsafat dengan masing-masing karakteristik yg dibawanya. Berdasar keempat hal tersebut pada umumnya filsuf sepakat untuk membagi sejarah filsafat menjadi 3 tradisi besar, yakni Sejarah Filsafat Barat, Sejarah Filasafat Cina dan Sejarah Filsafat India. Berikut ini akan saya ulas perkembangan filsafat ditilik dari kajian sejarahnya...

I. Sejarah Filsafat Barat

1. Permulaan: Filsafat Pra-Sokrates di Yunani
Sejarah filsafat Barat dimulai dari sebuah kota bernama Milete (Miletos), di Asia kecil, sekitar tahun 600 S.M. Pada waktu itu Milete merupakan kota yang penting, dimana banyak jalur perdagangan bertemu di Mesir, Yunani, Itali dan Asia. Juga banyak ide serta pemikiran bertemu disini, sehingga Milete juga menjadi suatu pusat intelektual. Pemikir-pemikir besar di Milete menyibukkan diri dengan filsafat alam. Mereka mencari suatu unsur induk ("archi") yg dapat dianggap sebagai asal segala sesuatu. Menurut Thales ( 600 S.M) air-lah yg merupakan unsur induk ini. Menurut Anaximander (610-540 S.M) segala sesuatu berasal dari"yg tak terbatas" dan menurut Anaximenes (585-525 S.M) udaralah yg merupakan unsur induk segala sesuatu. Thales juga berpendapat bahwa bumi terletak diatas air. Tentang bumi, Anaximandros mengatakan bahwa bumi persis berada di pusat jagad raya dg jarak yg sama terhadap semua badan yg lain. Sedangkan mengenai kehidupan bahwa semua makhluk hidup berasal dari air dan bentuk hidup yg pertama adalah ikan dan manusia pertama tumbuh dalam perut ikan. Sementara Anaximenes dapat dikatakan sebagai pemikir pertama yg mengemukakan persamaan antara tubuh manusia dan jagad raya. Udara dialam semesta ibarat jiwa yg dipupuk dg pernafasan didalam tubuh manusia. Filosof berikutnya
yg perlu diperkenalkan pada masa ini yaitu Pythagoras (500 S.M) yg mengajar di Itali Selatan, adalah orang pertama yg menamai diri "fisuf". Ia memimpin suatu sekolah filsafat yg keliatannya sebagai suatu biara dibawah perlindungan dari dewa Apollo. Sekolah Pythagoras sangat penting untuk perkembangan matematika. Ajaran falsafinya mengatakan antara lain pertama dikatakan bahwa jiwa tidak dapat mati. Sesudah kematian manusia, jiwa pindah kedalam hewan dan setelah hewan itu mati jiwa itu pindah lagi dan seterusnya. Tetapi dengan mensucikan dirinya, jiwa dapat selamat dari reinkarnasi tersebut. Ajaran kedua dari penemuannya terhadap interval-interval utama dari tangga nada yg diekspresikan dg perbandingan terhadap bilangan-bilangan, Pythagoras menyatakan bahwa suatu gejala fisis dikuasai oleh hukum matematis bahkan bahwa segala -galanya terdiri dari"bilangan-bilangan" :struktur dasar kenyataan itu"ritme". Ajaran Pythagoras yg ketiga yaitu mengenai kosmos, Pythagoras menyatakan untuk pertama kalinya, bahwa jagad raya bukanlah bumi melainkan Hestia (api) sebagaimana perapian erupakan pusat dari sebuah rumah. Dua nama lain yg penting dari periode ini adalah Herakleitos (500 S.M) dan Parmenides (515-440 S.M). Herakleitos mengajarkan bahwa api adalah dasar segala sesuatu, api adalah lambang perubahan, karena api menyebabkan kayu atau bahan apa saja beubah menjadi abu sementara apinya sendiri tetap menjadi api. Herakleitos juga berpandangan bahwa didalam dunia alamiah tidak ada satupun yg tetap, segala sesuatu yg ada adalah sedang menjadi. Pernyataannya yg paling populer adalah segala sesuatu 'mengalir" ("panta rhei kai udan menei") : segala sesuatu berubah terus-menerus seperti air dalam sungai tak ada yg tinggal tetap. Sementara Parmenides, filosof pertama yg disebut sebagai peletak dasar metafisika berpendapat bahwa yg ada adalah ada dan yg tidak ada adalah tidak ada. Konsekwensi dari pernyataan ini adalah yg ada 1) satu dan tak terbagi 2) kekal, tidak mungkin ada perubahan 3) sempurna, tidak bisa ditambah atau diambil darinya, 4) mengisi segala tempat, akibatnya tidak mungkin ada gerak sebagaimana klaim Herakleitos. Para filsus diatas pada masanya dikenal sebagai filsuf monisme yaitu pendirian bahwa realitas seluruhnya bersifat satu karena terdiri dari satu unsur saja.
Selanjutnya para filsuf yg dikenal sebagai filsuf pluralis pada masa ini, dikarenakan pandangan-pandangannya yg menyatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur. Filsuf pluralis diantaranya yaitu Empedokles menyatakan bahwa realitas terdiri dari empat rizomata (akar) yaitu : api, udara, tanah dan air. perubahan-perubahan yang terjadi dialam dikendalikan oleh dua prinsip yaitu Cinta (Philotes) dan Benci (Neikos). Empedokles juga menerangkan bahwa pengenalan (manusia) berdasarkan prinsip yg sama mengenal yg sama. Pluralis berikutnya adalah Anaxagoras, yg mengatakan bahwa realitas adalah terdiri dari sejumlah tak terhingga spermata (benih). Berbeda dari Empedokles yg mengatakan bahwa setiap unsur hanya memiliki kualitasnya sendiri seperti api adalah panas dan air adalah basah, Anaxagoras mengatakan bahwa segalanya terdapat dalam segalanya. Karena itu rambut dan kuku bisa tumbuh dari daging. Perubahan yg membuat benih-benih menjadi kosmos hanya berupa satu prinsip yaitu Nus yg berarti roh atau rasio. Nus tidak tercampur dalam benih-benih dan Nus mengenal serta menguasai segala sesuatu. Karena itu, Anaxagoras dikatakan sebagai filsuf pertama yg membedakan antara"yg ruhani" dan "yg jasmani". Pluralis Leukippos dan Demokritos juga disebut sebagai filsuf atomis. Atomisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur yg tak dapat dibagi-bagi lagi, karenanya unsur-unsur terakhir ini disebut atomos. Lebih lanjut lagi dikatakan bahwa atom-atom dibedakan melalui tiga cara: (seperti A dan N), urutannya (seperti AN dan NA) dan posisinya (seperti N dan Z). Jumlah atom tidak berhingga dan tidak mempunyai kualitas, sebagaimana pandangan Parmenides atom-atom tidak dijadikan dan tidak kekal. Tetapi Leukippos dan Demokritos menerima ruang kosong sehingga memungkinkan adanya gerak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa realitas seluruhnya terdiri dari dua hal: yang penuh yaitu atom-atom dan yg kosong. Menurut Demokritos jiwa juga terdiri dari atom-atom. Menurutnya proses pengenalan manusia tidak lain sebagai interaksi antar atom. Setiap benda mengeluarkan eidola (gambaran-gambaran kecil yg terdiri dari atom-atom dan berbentuk sama seperti benda itu). Eidola ini masuk kedalam panca indra dan disalurkan kedalam jiwa yg juga terdiri dari atom-atom eidola. Kualitas-kualitas yg manis, panas, dingin dan sebagainya semua hanya hanya berkuantitatif belaka. Atom jiwa bersentuhan dengan atom licin menyebabkan rasa manis, persentuhan dengan atom kesat menimbulkan rasa pahit sedangkan sentuhan dengan atom berkecepatan tinggi menyebabkan rasa panas dan seterusnya.

2. Puncak jaman Klasik: Socrates, Plato, Aristoteles
Puncak filsafat Yunani dicapai pada Socrates, Plato dan Aristoteles. Filsafat dalam periode ini ditandai oleh ajarannya yg "membumi" dibandingkan ajaran-ajaran filsuf sebelumnya. Seperti dikatakan Cicero (sastrawan Roma) bahwa Socrates telah memindahkan filsafat dari langit keatas bumi. Maksudnya, filsuf pra-Socrates mengkonsentrasikan diri pada persoalan alam semesta sedangkan Socrates mengarahkan obyek penelitiannya pada manusia diatas bumi. Hal ini juga diikuti oleh para sofis. Seperti telah disebutkan didepan, sofis (sophistes) mengalami kemerosotan makna. Shopistes digunakan untuk menyebut guru-guru yg berkeliling dari kota ke kota dan memainkan peran penting dalam masyarakat. Dalam dialog Protagoras, Plato mengatakan bahwa para sofis merupakan pemilik warung yg menjual barang ruhani.
Socrates (470-400 S.M) guru Plato, mengajar bahwa akal budi harus menjadi norma terpenting untuk tindakan kita. Sokrates sendiri tidak menulis apa-apa. Pikiran-pikirannya hanya dapat diketahui secara tidak langsung melalui tulisan-tulisan dari cukup banyak pemikir Yunani lain, terutama melalui karya plato. Sebagaimana para sofis, Socrates memulai filsafatnya dg bertitik tolak dari pengalaman keseharian dan kehidupan kongkret. Perbedaannya terletak pada penolakan Socrates terhadap relatifisme (pandangan yg berpendapat bahwa kebenaran tergantung pada manusia) yg pada umumnya dianut para sofis. Menurut Socrates tidak benar bahwa yg baik itu baik bagi warga Athena dan lain bagi warga negara Sparta. Yang baik mempunyai nilai yg sama bagi semua manusia dan harus dijunjung tinggi oleh semua orang. Pendirinya yg terkenal adalah pandangannya yg menyatakan bahwa keutamaan (arete) adlaah pengetahuan, pandangan ini kadang-kadang disebut intelektualisme etis. Dengan demikian Socrates menciptakan suatu etika yg berlaku bagi semua manusia. Sedangkan ilmu pengetahuan Socrates menemukan metode induksi dan memperkenalkan definisi-definisi umum.
Plato (428-348 S.M), hampir semua karya Plato ditulis dalam bentuk dialog dan Socrates diberi peran yg dominan dalam dialog tersebut. Sekurang-kurangnya ada dua alasan mengapa Plato memilih yg begitu. Pertama, sifat karyanya Socratic (Socrates berperan sentral) dan diketahui bahwa Socrates tidak mengajar tetapi mengadakan tanya jawab dg teman-temannya di Athena. Dengan demikian, karya Plato dapat dipandang sebagai monumen bagi sang guru yg dikaguminya. Kedua, berkaitan dengan anggapan Plato mengenai filsafat. Menurutnya, filsafat pada intinya tidak lain daripada dialog dan filsafat seolah-olah drama hidup yg tidak pernah selesai tetapi harus dimulai kembali. Ada tiga ajaran pokok dari Plato yaitu tentang idea, jiwa dan proses mengenal. Menurut Plato realitas terbagi menjadi dua yaitu inderawi yg selalu berubah dan dunia idea yg tidak pernah berubah. Idea merupakan sesuatu yg obyektif, tidak diciptakan oleh pikiran dan justru sebaliknya pikiran tergantung pada idea-idea tersebut. Idea-idea berhubungan dengan dunia melalui tiga cara; Idea hadir didalam benda, idea-idea berpartisipasi dalam konkret dan idea merupakan model atau contoh (paradigma) bagi benda konkret. Pembagian dunia ini pada gilirannya juga memberikan dua pengenalan. pertama pengenalan tentang idea; inilah pengenalan yg sebenarnya. Pengenalan yg dapat dicapai oleh rasio ini disebut episteme (pengetahuan) dan bersifat teguh, jelas, dan tidak berubah. Dengan demikian Plato menolak relatifisme kaum sofis. Kedua, pengenalan tentang benda-benda disebut doxa (pendapat) dan bersifat tidak tetap dan tidak pasti; pengenalan ini dapat dicapai dg panca indera. Dengan dua dunianya ini juga Plato bisa mendamaikan persoalan besar filsafat pra-socratic yaitu pandangan panta rhei-nya Herakleitos dan pandangan yg ada-ada-nya Parmenides. Keduanya benar, dunia inderawi memang selalu berubah sedangkan dunia idea tidak pernah berubah dan abadi. Memang jiwa Plato berpendapat bahwa jiwa itu baka, lantaran terdapat kesamaan antara jiwa dan idea. Lebih lanjut dikatakan bahwa jiwa sudah ada sebelum hidup di bumi. Sebelum bersatu dg badan, jiwa suda mengalami pra-eksistensi dimana ia memandang idea-idea. Berdasarkan pandangannya ini, Plato lebih lanjut berteori bahwa pengenalan pada dasarnya tidak lain adalah pengingatan (anamnenis) terhadap idea-idea yg telah dilihat pada waktu pra-eksistansi. Ajaran Plato tentang jiwa manusia ini bisa disebut penjara. Plato juga mengatakan, sebagaimana manusia, jagad raya juga memiliki jiwa dan jiwa dunia diciptakan sebelum jiwa-jiwa manusia. Plato juga membuat uraian tentang negara. Tetapi jasanya terbesar adalah usahanya membuka sekolah yg bertujuan ilmiah. Sekolahnya diberi nama"Akademia"yg paling didedikasikan kepada pahlawan yg bernama Akademos. Mata pelajaran yg paling diperhatikan adalah ilmu pasti. Menurut cerita tradisi, di pintu masuk akademia terdapat tulisan:"yg belum mempelajari matematika janganlah masuk disini".
Aristoteles ((384-322 S.M), pendidik Iskandar Agung yg juga adalah murid Plato. tetapi dalam banyak hal ia tidak setuju dengan Plato. Ide-ide menurut Aristoteles tidak terletak dalam suatu "surga" diatas dunia ini, melainkan didalam benda-benda sendiri. Setiap benda terdiri dari dua unsur yang tak terpisahkan, yaitu materi("hyle") dan bentuk("morfe"). Bentuk-bentuk dapat dibandingkan dengan ide-ide dari Plato. Tetapi pada Aristoteles ide-ide ini tidak dapat dipikirkan lagi lepas dari materi. Materi tanpa bentuk tidak ada. bentuk-bentuk"bertindak"didalam materi. bentuk-bentuk memberi kenyataan kepada materi dan sekaligus merupakan tujuan dari materi. Filsafat Aristoteles sangat sistematis. Sumbangannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan besa sekali. Tulisan-tulisan Aristoteles meliputi bidang logika, etika, politik, metafisika, psikologi dan ilmu alam. Pokok-pokok pikirannya antara lain bahwa ia berpendapat seseorang tidak dapat mengetahui suatu obyek jika ia tidak dapat mengatakan pengetahuan itu pada orang lain. Spektrum pengetahuan yg diminati oleh Aristoteles luas sekali, barangkali seluas lapangan pengetahuan itu sendiri. Menurutnya pengetahuan manusia dapat disistematiskan sebagai berikut;
Pengetahuan
-----------------------------------------------------------------
Teoritis Praktis Produktif
-----------------------------------------------------------------
teologi/metafisik Matematika Fisika Etika Politik Seni
------------------------------------------------------------------
Ilmu Hitung Ilmu ukur Retorika
Aristoteles berpendapat bahwa logika tidak termasuk ilmu pengetahuan tersendiri, tetapi mendahului ilmu pengetahuan sebagai persiapan berfikir secara ilmiah. untuk pertama kalinya dalam sejarah, logika diuraikan secara sistematis. Tidak dapat dibantah bahwa logika Aristoteles memainkan peranan penting dalam sejarah intelektual manusia; tidaklah berlebihan bila Immanuel Kant mengatakan bahwa sejak Aristoteles logika tidak maju selangkahpun. Mengenai pengetahuan, Aristoteles mengatakan bahwa pengetahuan dapat dihasilkan melalui jalan induksi dan jalan deduksi, induksi mengandalkan panca indera yg "lemah", sedangkan deduksi lepas dari pengetahuan inderawi. Karena itu dalam logikanya Aristoteles sangat banyak memberi tempat pada deduksi yg dipandangnya sebagai jalan sempurna menuju pengetahuan baru. Salah satu cara Aristoteles mempraktekkan deduksi adalah Syllogismos (silogisme).

3. Jaman Modern
Pada masa ini terbagi atas 4 jaman yaitu;
a. Jaman Renaissance
Jembatan antara Abad pertengahan dan Jaman Modern, periode antara sekitar 1400 dan 1600, disebut quot;renaissance (jaman"kelahiran kembali"). Dalam jaman renaissance, kebudayaan klasik dihidupkan kembali. kesusasteraan, seni dan filsafat mencapai inspirasi mereka dalam warisan Yunani-Romawi. Filsuf-filsuf terpenting dari renaissance adalah Nicollo Macchiavelli (1469-1527), Thomas Hobbes (1588-1679), Thomas More (1478-1535) dan Francis bacon (1561-1626). Pembaharuan terpenting ada jaman ini terlihat dalam antroposentrisnya. Pusat perjatian pemikiran itu tidak lagi kosmos, seperti dalam jaman kuno atau Tuhan seperti pada jaman Abad Pertengahan, melainkan manusia. Mulai sekarang manusia-lah yg dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan.
b. Jaman Barok
Filsuf-filsuf dari Jaman Barok; Rene Descartes (1588-1650), Barukh de Spinoza (1632-1677) dan Gottfried Leibniz (1646-1710). Mereka menekankan kemungkinan-kemungkinan akal budi"ratio" manusia. Mereka semua juga ahli matematika dan mereka semua menyusun suatu sistem filsafat dengan menggunakan metode matematika.
c. Jaman Fajar Budi
Abad kedelapanbelas memperlihatkan perkembangan baru lagi. Setelah reformasi, setelah renaissance dan setelah resionalisme dari Jaman Barok, manusia sekarang dianggap dewasa. Periode ini dalam sejarah filsafat barat disebut Jaman pencerahan atau"Fajar Budi" (dalam bahasa Inggris "Enlightenment" dalam bahasa Jerman "Aufklarung"). Filsuf-filsuf besar dari jaman ini di Inggris yaitu Jhon Locke (1632-1704), George Berkeley (1684-1753) dan david Hume (1711-1776). Di Prancis jean Jacque Rousseau (1712-1778) dan di jerman Immanuel Kant (1724-1804), filsuf yg menciptakan suatu sintesis dari rasionalisme dan empirisme dan yg dianggap sebagai filsuf terpenting dari jaman modern.
d. Jaman Romantik
Filsuf-filsuf besar dari jaman ini lebih-lebih berasal dari jerman yaitu; J.Fichte (1762-1814), F. Schelling (1775-1854) dan G.W.F. Hegel (1770-1831). Aliran yg diwakili oleh ketiga filsuf ini disebut"idealisme" yg dimaksut disini dengan idealisme adalah bahwa mereka memprioritaskan ide-ide, berlawanan dengan "materialisme" yg memprioritaskan dunia material. Yang terpenting dari para idealis harud dianggap sebagai lanjutan dari filsafat Hegel atau justru sebagai reaksi terhadap filsafat Hegel.

Readmore »»

Kamis, 01 April 2010

2 Kubu Besar Filsafat

Mengingat banyaknya aliran yg berkembang dalam filsafat tentunya ketika kita mengkaji ranah ilmu yg satu ini memang akan banyak kita temui berbagai teori dan literatur dari begitu banyak ahli filsafat seperti yang saya uraikan pada pembahasan sebelumnya...maka disini saya akan menawarkan sebuah metode pengkajian filsafat yang lebih masuk akal bagi saya dan disarankan oleh banyak kawan yang juga sama-sama mempelajari filsafat tentunya untuk memuaskan rasa ketidaktahuan dan mungkin juga ini salah satu praktek rendah hati dalam terus mempelajari ajaran-ajaran marx dan engels bagi para marxis yang belum ahli macam saya.

Metode pengkajian yang akan saya bicarakan adalah metode pembagian kajian filsafat menurut Engels yang memisahkan filsafat itu menjadi dua kubu besar yaitu filsafat materialis dan filsafat idealis, materialisme dan idealisme.
Yang dipisahkan menurut Engels ialah didasarkan atas sikap yang diambil oleh si pemikir, yakni apa yang pertama ada terlebih dahulu. Yang mengatakan benda dahulu baru datang fikiran itulah yang materialis dan yang mengatakan fikiran dahulu baru datang benda itulah yang idealis. Pada kubu idealis kita dapatkan beberapa pemikir terkemuka seperti Plato, Hume, Berkeley dan “raksasa pikiran” Hegel, pada kubu materialis kita berjumpa dengan Heraklit, Demokrit, Diderot dan berpuncak pada Marx dan Engels. Diantara kedua kubu ini ada juga yang berdiri ditengah-tengah setengah idealis dan setengah materialis ini disebut dengan penganut filsafat dualisme.

Monoisme dan Dualisme

Monoisme adalah suatu system filsafat yang bertitik tolak dari satu dasar pandangan, materi atau ide, yang mengatakan materi adalah primer adalah yang tergabung dalam aliran materialisme, sedangkan yang mengatakan ide adalah primer atau yang pertama mereka inilah yang tergabung dalam lairan idealisme. Istilah atau perkataan monoisme pertamakali dipakai oleh seorang filsuf bernama Chr. Wolf pada abad ke-18

Dualisme adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari materi dan ide sekaligus. Dualisme menganggap materi dan ide itu sama-sama primer, tidak ada yang sekunder. Keduanya timbul dan ada secara bersamaan. Materi ada karena adanya ide dan juga sebaliknya ide itu ada karena adanya materi. Tapi pada hakikatnya pandangan ini idealis juga, karena pandangan itu tidak lain hanya ada dalam fikiran saja, karena tidak ada dalam kenyataan.

Materialisme dan Idealisme

Seperti sudah dijelaskan diatas apa yang selalu menjadi pertanyaan filsafat akhirnya berpuncak pada apakah yang ada lebih dahulu, apakah yang primer benda atau fikiran, materi atau ide. Yang berpendapat ide/fikiran dahulu ada baru benda kemudian muncul dari padanya adalah yang digolongkan pada kaum Idealisme. Dan yang berpendapat bahwa benda/materi ada lebih dahulu baharu kemudian muncul ide mereka itulah yang berdiri di barisan kaum Materialisme
Jadi pengertian idealisme itu bukanlah seperti yang difitnahkan oleh orang-orang tertentu yaitu bahwa kaum materialis itu adalah orang-orang yang hanya mencari kesenangan hiduptak terbatas; makan sampai muntah, minum sampai mabuk, penganut sex bebas dsb-nya. Sedangkan kaum Idealis adalah orang-orang yang menjunjung tinggi kesucian, lebih mementingkan berpikir dari pada makan, dll.

a. Filsafat Idealisme

Idealisme ialah filsafat yang pandangan yang menganggap atau memandang ide itu primer dan materi adalah sekundernya, dengan kata lain menganggap materi berasal dari ide atau diciptakan oleh ide.
Dengan David Hume sebagai filsuf idealis subyektif, kita dapat menggambarkan seluruh ahli filsafat idealis dari Plato sampai Hegel, “if I go into myself”, “kalau saya memasuki diri saya sendiri”, kata Hume, maka saya jumpai “bundles of conception”, bermacam pengertian, bermacam-macam gambaran tentang benda. “Engkau”, kata Hume cuma “ide” bagi saya (Hume).
Tapi “Engkau” buat Hume adalah saya buat Udin, misalnya. Jadi Udin bagi Hume hanyalah “Ide”, tetapi Hume juga cuma “ide” buat Udin, Udin dipandang dari pihak Hume hanya Ide, hanya gambaran di otak Hume begitu juga sebaliknya. Dengan begitu Hume membatalkan dirinya sendiri , mengakui bahwa dia sendiri tidak ada dan, hanya ide ???
Terhadap adanya pandangan idealisme demikian itu, Lenin dengan tajam mengeritik idealisme sebagai filsafat yang tanpa otak dan dikonsolidasikan oleh kepentingan klas-klas yang berkuasa -- klas-klas pemilik budak, kaum feodal dan kaum borjuasi --.

Aliran-aliran dalam filsafat Idealisme

1. Idealisme Obyektif

Idealisme obyektif adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya idealis, dan idealismenya itu bertitik tolak dari ide universil (Absolute Idea- Hegel / LOGOS-nya Plato) ide diluar ide manusia. Menurut idealisme obyektif segala sesuatu baik dalam alam atau masyarakat adalah hasil dari ciptaan ide universil.

Pandangan filsafat seperti ini pada dasarnya mengakui sesuatu yang bukan materiil, yang ada secara abadi diluar manusia, sesuatu yang bukan materiil itu ada sebelum dunia alam semesta ini ada, termasuk manusia dan segala pikiran dan perasaannya. Dalam bentuknya yang amat primitif pandangan ini menyatakan bentuknya dalam penyembahan terhadap pohon, batu dsb-nya.

Akan tetapi sebagai suatu system filsafat, pandangan dunia ini pertama-tama kali disistimatiskan oleh Plato (427-347 S.M), menurut Plato dunia luar yang dapat di tangkap oleh panca indera kita bukanlah dunia yang riil, melainkan bayangan dari dunia “idea” yang abadi dan riil. Pandangan dunia Plato ini mewakili kepentingan klas yang berkuasa pada waktu itu di Eropa yaitu klas pemilik budak. Dan ini jelas nampak dalam ajarannya tentang masyarakat “ideal”.

Pada jaman feodal, filsafat idealisme obyektif ini mengambil bentuk yang dikenal dengan nama Skolastisisme, system filsafat ini memadukan unsur idealisme Aristoteles (384-322 S.M), yaitu bahwa dunia kita merupakan suatu tingkatan hirarki dari seluruh system hirarki dunia semesta, begitupun yang hirarki yang berada dalam masyarakat feodal merupakan kelanjutan dari dunia ke-Tuhanan. Segala sesuatu yang ada dan terjadi di dunia ini maupun dalam alam semesta merupakan “penjelmaan” dari titah Tuhan atau perwujudan dari ide Tuhan. Filsafat ini membela para bangsawan atau kaum feodal yang pada waktu itu merupakan tuan tanah besar di Eropa dan kekuasaan gereja sebagai “wakil” Tuhan didunia ini. Tokoh-tokoh yang terkenal dari aliran filsafat ini adalah: Johannes Eriugena (833 M), Thomas Aquinas (1225-1274 M), Duns Scotus (1270-1308 M), dsb.

Kemudian pada jaman modern sekitar abad ke-18 muncullah sebuah system filsafat idealisme obyektif yang baru, yaitu system yang dikemukakan oleh George.W.F Hegel (1770-1831 M). Menurut Hegel hakekat dari dunia ini adalah “ide absolut”, yang berada secara absolut dan “obyektif” didalam segala sesuatu, dan tak terbatas pada ruang dan waktu. “Ide absolut” ini, dalam prosesnya menampakkan dirinya dalam wujud gejala alam, gejala masyarakat, dan gejala fikiran. Filsafat Hegel ini mewakili klas borjuis Jerman yang pada waktu itu baru tumbuh dan masih lemah, kepentingan klasnya menghendaki suatu perubahan social, menghendaki dihapusnya hak-hak istimewa kaum bangsawan Junker. Hal ini tercermin dalam pandangan dialektisnya yang beranggapan bahwa sesuatu itu senantiasa berkembang dan berubah tidak ada yang abadi atau mutlak, termasuk juga kekuasaan kaum feodal. Akan tetapi karena kedudukan dan kekuatannya masih lemah itu membuat mereka tidak berani terang-terangan melawan filsafat Skolatisisme dan ajaran agama yang berkuasa ketika itu.

Pikiran filsafat idealisme obyektif ini dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai macam bentuk. Perwujudan paling umum antara lain adalah formalisme dan doktriner-isme. Kaum doktriner dan formalis secara membuta mempercayai dalil-dalil atau teori sebagai kekuatan yang maha kuasa , sebagai obat manjur buat segala macam penyakit, sehingga dalam melakukan tugas-tugas atau menyelesaikan persoalan-persoalan praktis mereka tidak bisa berfikir atau bertindak secara hidup berdasarkan situasi dan syarat yang kongkrit, mereka adalah kaum “textbook-thingking”.

2. Idealisme Subyektif

Idealisme subyektif adalah filsafat yang berpandangan idealis dan bertitik tolak pada ide manusia atau ide sendiri. Alam dan masyarakat ini tercipta dari ide manusia. Segala sesuatu yang timbul dan terjadi di alam atau di masyarakat adalah hasil atau karena ciptaan ide manusia atau idenya sendiri, atau dengan kata lain alam dan masyarakat hanyalah sebuah ide/fikiran dari dirinya sendiri atau ide manusia.

Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah seorang uskup inggris yang bernama George Berkeley (1684-1753 M), menurut Berkeley segala, sesuatu yang tertangkap oleh sensasi/perasaan kita itu bukanlah bukanlah materiil yang riil dan ada secara obyektif. Sesuatu yang materiil misalkan jeruk, dianggapnya hanya sebagai sensasi-sensasi atau kumpulan perasaan/konsepsi tertentu (“bundles of conception” David Hume (1711-1776 M), -ed), yaitu perasaan / konsepsi dari rasa jeruk, berat, bau, bentuk dsb. Dengan demikian Berkeley dan Hume menyangkal adanya materi yang ada secara obyektif, dan hanya mengakui adanya materi atau dunia yang riil didalam fikirannya atau idenya sendiri saja.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari filsafat ini adalah, kecenderungan untuk bersifat egoistis “Aku-isme” yang hanya mengakui yang riil adalah dirinya sendiri yang ada hanya “Aku”, segala sesuatu yang ada diluar selain “Aku” itu hanya sensasi atau konsepsi-konsepsi dari “Aku”. Untuk berkelit dari tuduhan egoistis dan mengedepankan “Aku-isme/solipisme” Berkeley menyatakan hanya Tuhan yang berada tanpa tergantung pada sensasi.
Filsafat Berkeley dan Hume ini adalah filsafat Borjuasi besar Inggris pada abad ke-18, yang merupakan kekuatan reaksioner menentang materialisme klasik Perancis, sebagai manifestasi dari kekuatiran atas revolusi di Inggris pada waktu itu.

Pada abad ke-19, Idealisme subyektif mengambil bentuknya yang baru yang terkenal dengan nama “Positivisme”, yang di kemukakan pertama kali oleh Aguste Comte (1798-1857 M), menurutnya hanya “pengalaman”-lah yang merupakan kenyataan yang sesungguhnya , selain dari pada itu tidak ada lagi kenyataan, dunia adalah hasil ciptaan dari pengalaman, dan ilmu hanya bertugas untuk menguraikan pengalaman itu. Dan masih banyak lagi pemikir-pemikir yang lainnya dalam filsafat ini, misalnya saja William Jones (1842-1910 M) dan John Dewey (1859-1952), keduanya berasal dari Amerika Serikat dan pencetus ide “pragmatisme”, menurut mereka Pragmatisme adalah suatu filsafat yang menggunakan akibat-akibat praktis dari ide-ide atau keyakinan-keyakinan sebagai suatu ukuran untuk menetapkan nilai dan kebenarannya. Filsafat seperti ini sangat menekankan pada pandangan individualistic, yang mengedepankan sesuatu yang mempunyai keuntungan atau “cash-value”(nilai kontan)-lah yang dapat diterima oleh akal si “Aku” tsb. Pragmatisme berkembang di Amerika dan adalah filsafat yang mewakili kaum borjuasi besar di negeri yang katanya “the biggest of all”. Sebab dari pandangan filsafat seperti ini Imperialisme, tindakan eksploitasi dan penindasan dapat dibenarkan selama dapat mendapatkan keuntungan untuk si “Aku”.

Pandangan-pandangan idealisme subyektif dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya tidak jarang kita temui perkataan-perkataan seperti ini :

“Baik buruknya keadaan masyarakat sekarang tergantung pada orang yang menerimanya, ialah baik bagi mereka yang menganggapnya baik dan buruk bagi mereka yang menganggapnya buruk.”

“kekacauan sekarang timbul karena orang yang duduk dipemerintahan tidak jujur, kalau mereka diganti dengan orang-orang yang jujur maka keadaan akan menjadi baik.”
“aku bisa, kau harus bisa juga,” dsb.

b. Filsafat Materialisme

Materialisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari pada materi (benda). Materialisme memandang bahwa benda itu primer sedangkan ide ditempatkan di sekundernya. Sebab materi ada terlebih dahulu baru ada ide. Pandangan ini berdasakan atas kenyataan menurut proses waktu dan zat.
Misal, menurut proses waktu, lama sebelum manusia yang mempunyai ide itu ada didunia, alam raya ini sudah ada.
Menurut zat, manusia tidak bisa berfikir atau mempunyai ide bila tidak mempunyai otak, otak itu adalah sebuah benda yang bisa dirasakan oleh panca indera kita. Otak atau materi ini yang lebih dulu ada baharu muncul ide dari padanya. Atau seperti kata Marx “Bukan fikiran yang menentukan pergaulan, melainkan keadaan pergaulan yang menentukan fikiran.” Maksudnya sifat/fikiran seorang individu itu ditentukan oleh keadaan masyarakat sekelilingnya, “masyarakat sekelilingnya” –ini menjadi materi atau sebab yang mendorong terciptanya fikiran dalam individu tersebut.

Aliran-aliran dalam materialisme

1. Materialisme Mekanik

Materialisme mekanik adalah aliran filsafat yang pandangannya materialis sedangkan metodenya mekanis. Aliran ini mengajarkan bahwa materi itu selalu dalam keadaan gerak dan berubah, geraknya itu adalah gerakan yang mekanis artinya, gerak yang tetap selamanya atau gerak yang berulang-ulang (endless loop) seperti mesin yang tanpa perkembangan atau peningkatan secara kualitatif.

Materialisme mekanik tersistematis ketika ilmu tentang meknika mulai berkembang dengan pesat, tokoh-tokoh yang terkenal sebagai pengusung materialisme pada waktu itu ialah Demokritus ( 460-370 SM), Heraklitus ( 500 SM) kedua pemikir Yunanai ini berpendapat bahwa aktivitas psikik hanya merupakan gerakan atom-atom yang sangat lembut dan mudah bergerak.
Mulai abad ke-4 sebelum masehi pandangan materialisme primitif ini mulai menurun pengaruhnya digantikan dengan pandangan idealisme yang diusung oleh Plato dan Aristoteles. Sejak itu,  1700 tahun lamanya dunia filsafat dikuasai oleh filsafat idealisme.

Baru pada akhir jaman feodal, sekitar abad ke-17 ketika kaum borjuis sebagai klas baru dengan cara produksinya yang baru, materialisme mekanik muncul dalam bentuk yang lebih modern karena ilmu pengetahuan telah maju sedemikian pesatnya. Pada waktu itu ilmu materialisme ini menjadi senjata moril / idiologis bagi perjuangan klas borjuis melawan klas feodal yang masih berkuasa ketika itu. Perkembangan materialisme ini meluas dengan adanya revolusi industri, di negeri-negeri Eropa. Wakil-wakil dari filsafat materialis pada abad ke-17 adalah Thomas Hobbes(1588-1679 M), Benedictus Spinoza (1632-1677 M) dsb. Aliran filsafat materialisme mekanik mencapai titik puncaknya ketika terjadi Revolusi Perancis pada abad ke-18 yang diwakili oleh Paul de Holbach (1723-1789 M), Lamettrie (1709-1751 M) yang disebut juga materialisme Perancis.

Materialisme Perancis dengan tegas mengatakan materi adalah primer dan ide adalah sekunder, Holbach mengatakan : “materi adalah sesuatu yang selalu dengan cara-cara tertentu menyentuh panca indera kita, sedang sifat-sifat yang kita kenal dari bermacam hal-ichwal itu adalah hasil dari bermacam impresi atau berbagai macam perubahan yang terjadi di alam pikiran kita terhadap hal-ichwal itu”. Materialisme Perancis menyangkal pandangan religus tentang penciptann dunia (Demiurge), yang sebelum itu menguasai alam pikiran manusia.. Bahkan secara terang-terangan Holbach mengatakan “nampaknya agama itu diadakanhanya untuk memperbudak rakyat dan supaya mereka tunduk dibawah kekuasaan raja lalim. Asal manusia merasa dirinya didalam dunia ini sangat celaka, maka ada orang yang datang mengancam mereka dengan kemarahan Tuhan, memakasa mereka diam dan mengarahkan pandangan mereka kelangit, dengan demikian mereka tidak lagi dapat melihat sebab sesungguhnya daripada kemalangannnya itu”.

Materialisme Perancis adalah pandangan yang menganggap segala macam gerak atau gejala-gejala yang terjadi dialam itu dikuasai oleh gerakan mekanika, yaitu pergeseran tempat dan perubahan jumlah saja. Bahkan manusia dan segala aktivitetnya pun dipandang seperti mesin yang bergerak secara mekanik, ini tampak jelas sekali dalam karya Lamettrie yang berjudul “Manusia adalah mesin”. Mereka tidak melihat adanya peranan aktif dari ide atau pikiran terhadap materi. Pandangan ini adalah ciri dan sekaligus kelemahan materialisme Perancis.

2. Materialisme metafisik

Materialisme metafisik mengajarkan bahwa materi itu selalu dalam keadaan diam, tetap atau statis selamanya seandainya materi itu berubah maka perubahan tersebut terjadi karena faktor luar atau kekuatan dari luar. Gerak materi itu disebut gerak ekstern atau gerak luar. selanjutnya materi itu dalam keadaan terpisah-pisah atau tidak mempunyai hubungan antara satu dengan yang lainnya.

Materialisme metafisik diwakili oleh Ludwig Feurbach, pandangan materialisme ini mengakui bahwa adanya “ide absolut” pra-dunia dari Hegel , adanya terlebih dahulu “kategori-kategori logis” sebelum dunia ada, adalah tidak lain sisa-sisa khayalan dari kepercayaan tentang adanya pencipta diluar dunia; bahwa dunia materiil yang dapat dirasakan oleh panca indera kita adalah satu-satunya realitet.
Tetapi materialisme metafisik melihat segala sesuatu tidak secara keseluruhannya, tidak dari saling hubungannya, atau segala sesuatu itu berdiri sendiri. Dan segala sesuatu yang real itu tidak bergerak, diam.

Pandangan ini mengidamkan seorang manusia suci atau seorang resi suci yang penuh cinta kasih. Feurbach berusaha memindahkan agama lama yang menekankan hubungan manusia dengan Tuhan menjadi sebuah agama baru yaitu hubungan cinta kelamin antara manusia dengan manusia. Seperti kata Feurbach: “Tuhan adalah bayangan manusia dalam cermin”, Feurbach menentang teologi, dalam filsafatnya atau “agama baru”-nya Feurbach mengganti kedudukan Tuhan dengan manusia, pendeknya manusia itu Tuhan. Feurbach tidak melihat peran aktif dari ide dalam perkembangan materi, yang materi bagi Feurbach adalah misalnya, manusia (baca: materi, pen) sedangkan dunia dimana manusia itu tinggal tidak ada baginya, atau menganggap sepi ativitet yang dilakukan manusia/materi tersebut.

Materialisme metafisik menganggap kontradiksi sebagai hal yang irasionil bukan sebagai hal yang nyata, disinilah letak dari idealisme Feurbach. Pandangannya bertolak daripada materialisme tetapi metode penyelidikan yang dipakai ialah metafisis. Metode metafisis inilah yang menjadi kelemahan terbesar bagi materialisme Feurbach.


3. Materialisme dialektis

Materialisme dialektis adalah aliran filsafat yang bersandar pada matter (benda) dan metodenya dialektis. Aliran ini mengajarkan bahwa materi itu mempunyai keterhubungan satu dengan lainnya, saling mempengaruhi, dan saling bergantung satu dengan lainnya. Gerak materi itu adalah gerakan yang dialektis yaitu pergerakan atau perubahan menuju bentuk yang lebih tinggi atau lebih maju seperti spiral. Tokoh-tokoh pencetus filsafat ini adalah Karl Marx (1818-1883 M), Friedrich Engels (1820-1895 M).

Gerakan materi itu adalah gerak intern, yaitu bergerak atau berubah karena dorongan dari faktor dalamnya (motive force-nya). Yang disebut “diam” itu hanya tampaknya atau bentuknya, sebab hakikat dari gejala yang tampaknya atau bentuknya “diam” itu isinya tetap gerak, jadi “diam” itu juga suatu bentuk gerak.

Metode yang dipakai adalah dialektika Hegel, Marx mengakui bahwa orang Yunani-lah yang pertama kali menemukan metode dialektika, tetapi Hegel-lah yang mensistematiskan metode tersebut. Tetapi oleh Marx dijungkir balikkan dengan bersandarkan materialisme. Marx dan temannya Engels mengambil materialisme Feurbach dan membuang metodenya yang metafisis sebagai dasar dari filsafatnya. Dan memakai dialektika sebagai metode dan membuang pandangan idealis Hegel.

Dialektika Hegel menentang dan menggulingkan metode metafisis yang selama beabad-abad menguasai lapangan filsafat. Hegel mengatakan “yang penting dalam filsafat adalah metode bukan kesimpulan-kesimpulan mengenai ini dan itu”. Ia menunjukkan kelemahan-kelemahan metafisika :
1. Kaum metafisis memandang sesuatu bukan dari keseluruhannya, tidak dari saling hubungannya, tetapi dipandangnya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, sedangkan Hegel memandang dunia sebagai badan kesatuan, segala sesuatu didalamnya terdapat saling hubungan organic.
2. Kaum metafisis melihat segala sesuatu tidak dari geraknya, melainkan sebagai yang diam, mati dan tidak berubah-ubah, sedang Hegel melihat segala sesuatu dari perkembangannya, dan perkembangannya itu disebabkan kontradiksi internal, kaum metafisik berpendapat bahwa: “segala yang bertentangan adalah irasionil”. Mereka tidak tahu bahwa akal (reason) itu sendiri adalah pertentangan.
3. Sumbangan Hegel yang terpenting adalah kritiknya tentang evolusi vulgar, yang pada ketika itu sangat merajalela, dengan mengemukakan teorinya tentang “lompatan” (sprong) dalam proses perkembangan. Sebelum Hegel sudah banyak filsuf yang mengakui bahwa dunia ini berkembang, dan meninjau sesuatu dari proses perkembangannya, tetapi perkembangannya hanya terbatas pada perubahan yang berangsur-angsur (perubahan evolusioner) saja. Sedang Hegel berpendapat dalam proses perlembangan itu pertentangan intern makin mendalam dan meruncing dan pada suati tingkat tertentu perubahan berangsur-angsur terhenti dan terjadilah “lompatan”. Setelah “lompatan” itu terjadi, maka kwalitas sesuatu itu mengalami perubahan.
Akan tetapi dialektika Hegel ini diselimuti dengan kulit mistik, reaksioner, yaitu pandangan idealismenya sehingga dia memutar balikkan keadaan sebenarnya. Hukum tentang dialektika yaitu hukum tentang saling hubungan dan perkembangan gejala-gejala yang berlaku didunia ini dipandangnya bukan seabagai suatu hal yang obyektif, yang primer melainkan perwujudan dari “ide absolut”. Kulitnya yang reaksioner inilah yang kemudian dibuang oleh Marx, dan isinya yang “rasionil” diambil serta ditempatkan pada kedudukan yang benar.

Sedangkan jembatan antara Marx dan Hegel adalah Feurbach, Materialisme dijadikan sebagai dasar filsafatnya tetapi Feurbach melihat gerak dari penjuru idealisme yang membuat ia berhenti dan membuang dialektika Hegel. Membuat hasil pemeriksaannya terpisah dan abstrak, Marx membuang metode metafisisnya, dan menggantinya dengan dialektika, sehingga menghasilkan sebuah system filsafat baru yang lebih kaya dan lebih sempurna dari pendahulunya.

Materi dan Ide

a. Materi.

Materi mempunyai dua pengertian, yaitu arti materi menurut filsafat, dan materi menurut ilmu alam. Materi menurut ilmu alam mempunyai arti yang lebih sempit daripada arti materi menurut filsafat
Materi menurut ilmu alam, ialah segala sesuatu yang mempunyai susunan atau yang tersusun secara organis atau dengan kata lain benda. Benda menurut ilmu alam mempunyai tiga bentuk yaitu benda padat (solid), benda cair (liquid) dan gas (gasceus).
Materi menurut filsafat, ialah segala sesuatu yang bisa ditangkap oleh indera manusia, serta bisa menimbulkan ide-ide tertentu. Dengan begitu pengartian materi menurut filsafat mencakup pula pengertian materi menurut ilmu alam.

Materi mempunyai peranan menetukan ide, materi menimbulkan ide. Ide manusia timbul setelah terlebih dahulu suatu materi ditangkap oleh indera. Sudah jelas yang “memproduksi” ide itu adalah sebuah materi yang sudah mencapai titik perkembangan yang sangat tinggi yang disebut dengan otak.

b. Ide.

Sebagaimana yang diterangkan diatas, materialisme dialektis berpendapat bahwa ide itu dilahirkan dan ditentukan oleh materi, ini mengandung dua pengertian:
1. Dipandang dari proses asalnya ide / pikiran, nyatalah bahwa sensasi (perasaan) itu tidak dilahirkan oeh materi biasa. Melainkan semacam organisme tertentu yang telah mencapai perkembangan yang sangat tinggi dan mempunyai struktur yang sangat complex yang kita sebut sebagai otak. Tanpa otak tidak akan ada pikiran / ide, otak atau system urat syaraf yang sangat kompleks adalah hasil tertinggi dari proses perkembangan alam. Oleh karena itu ide juga merupakanproduk dari proses perkembangan dari alam.
2. Dipandang dari isinya, bagaimanapun ide adalah pencerminan dari kenyataan obyektif. Marx berkata bahwa: “ide tidak lain daripada dunia materiil yang dicerminkan oleh otak manusia, dan diterjemah kan dalam bentuk bentuk pikiran”. Pencerminan itu hanya bisa terjadi dengan adanya kontak langsung antara kesadaran manusia dengan dunia luar, dengan praktek sosial manusia. Oleh karenanya ide juga merupakan produk dari proses perkembangan praktek sosial manusia.

Ide adalah cermin dari materi atau merupakan bentuk lain dari materi. Tetapi ide tidak mesti sama dengan materi, ide dapat menjangkau jauh didepan materi. Walau begitu ide tidak akan dapat lepas dari materi. Materi menentukan ide, sedangkan ide mempunyai peranan aktif terhadap perkembangan materi. Jadi ide mempunyai peranan aktif, tidak pasif seperti pencerminan cermin biasa.

Dengan demikian jelaslah pengertian materialisme dialektis tentang materi dan ide bertentangan dengan paham idealisme yang menganggap ide adalah yang terlebih dahulu ada daripada materi. Materialisme dialektis disatu pihak mengatakan materi ada terlebih dahulu daripada ide, tetapi dipihak lain mengakui peranan aktif daripada ide dalam perkembangan materi, ini mengandung dua pengertian :
1. Seperti dijelaskan diatas ide adalah pencerminan materi, tetapi proses pencerminan itu tidak semudah atau sesimple pencerminan dengan kaca-cermin, yang hanya bisa menjelaskan gejala luar saja. Melainkan melalui pencerminan yang aktif, melalui proses pemikiran yang rumit sehingga dapat mencerminkan kenyataan obyektif sebagaimana adanya, baik mengenal sesuatu itu dari gejala luarnya maupun gejala dalamnya atau hakekat suatu materi. Peranan aktif dari ide inilah yang memungkinkan manusia menyempurnakan alat-alat atau perkakas untuk memperbesar kemampuannya dalam mengenal atau mencerminkan keadaan maupun mengubah keadaan.
2. Peranan aktif ide itu berarti dalam mengenal dan mengubah keadaan itu manusia bertindak dengan sadar, dengan motif atau tujuan tertentu, yaitu untuk memenuhi kebutuhan praktek sosialnya untuk kehidupan.
Ide revolusioner yaitu ide yang mencerminkan hukum-hukum perkembangan keadaan obyektif, memainkan peranan untuk mendorong perkembangan keadaan. Sebaliknya ide reaksioner, ialah ide yang berlawanan dengan hukum-hukum perkembangan keadaan obyektif dan menghambat kemajuan.

Dengan dijelaskannya keprimeran materi dan peranan aktif ide, materialisme dialektis mengajarkan supaya dalam memandang dan memecahkan permasalahan harus bertolak dari kenyataan yang kongkrit dan berdasarkan data-data yang obyektif, dan jangan bersandar pada dugaan-dugaan subyektif dan hanya terpaku pada buku-buku yang mati, dan juga harus ditujukan pada kebutuhan praktek yang kongkrit. Dipihak lain ia memperingatkan kita kepada pentingnya teori, tetapi dipihak lain ia menolak “pendewaan” kepada teori atau dengan kata lain menentang dengan tegas terhadap kedogmatisan.

Karl Marx, thesis ke-11 tentang Feurbach
Thx to kawan-kawan : Mahasiswa Berjuang

Readmore »»

Senin, 15 Februari 2010

Aliran-aliran Filsafat

Sesuai dg janji saya untuk berbagi wacana mengenai aliran-aliran yg berkembang dalam filsafat, maka saya akan memulai dg tiga aliran besar yg lebih saya tekankan untuk diketahui mengingat banyaknya aliran-aliran yg terdapat dalam filsafat yg juga sangat kompleks. Tiga aliran yg akan saya bicarakan diantaranya; aliran metafisika, aliran etika dan aliran-aliran teori pengetahuan. Namun sedikit akan saya uraikan juga beberapa aliran filsafat yg lain.


a. Aliran-aliran metafisika
Menurut Prof. S. Takdir Alisyahbana, metafisika ini dibagi menjadi dua golongan besar yaitu yg mengenai kuantitas (jumlah) dan yg mengenai kualitas (sifat).
Yang mengenai kuantitas terdiri atas; monisme, dualisme dan pluralisme. Monisme adalah aliran yg mengemukakan bahwa unsur pokok segala yg ada ini adalah esa(satu). Menurut Thales unsur tersebut air, menurut Anaximandros unsur itu 'apeiron' sedangkan menurut Anaximenes unsur itu adalah udara. Dualisme adalah aliran yg berpendirian bahwa unsur pokok segala yg ada ini dua yaitu roh dan benda. Pluralisme adalah aliran yg berpendapat bahwa unsur pokok hakikat kenyataan ini banyak, salah satu penganutnya yaitu Empedokles yg beranggapan bahwa unsur-unsur itu adalah udara, api, air dan tanah.
Yang mengenai kualitas dibagi juga menjadi dua bagian besar yaitu yg mengenai hakikat kenyataan itu tetap dan yg melihat hakikat kenyataan itu sebagai kejadian. Yg termasuk golongan pertama (tetap) ialah; Spiritualisme, yakni aliran berpendapat bahwa hakikat itu bersifat roh kemudian Materialisme, yakni aliran yg berpendapat bahwa hakikat itu bersifat materi. Selanjutnya yg termasuk golongan kedua (kejadian) ialah; Mekanisme, aliran yg berkyakinan bahwa kejadian di dunia ini berlaku dg sendirinya menurut hukum sebab akibat. Teleologi, aliran yg berkyakinan bahwa kejadian yg satu berhubungan dg yg lain, bukan oleh hukum sebab akibat, melainkan semata-mata oleh tujuan yg sama. Determinisme, aliran yg mengajarkan bahwa kemauan manusia itu tidak merdeka dalam mengambil putusan-putusan yg penting, tetapi sudah terpastikan terlebih dahulu. Indeterminisme, aliran yg berpendirian bahwa kemauan manusia itu bebas dalam arti yg seluas-luasnya.

b. Aliran-aliran etika
Aliran-aliran penting dalam etika banyak sekali, diantaranya ialah:
  1. Aliran etika nuturalisme, yaitu aliran yg beranggapan bahwa kebahagiaan manusia itu diperoleh dg menurutkan panggilan natural (fitrah) kejadian manusia.
  2. Aliran etika hedonisme, yaitu aliran yg berpendapat bahwa perbuatan susila itu ialah perbuatan yg menimbulkan 'hedone' (kenikmatan dan kelezatan)
  3. Aliran etika utilitarianisme, yaitu aliran yg menilai baik buruknya perbuatan manusia ditinjau dari kecil dan besarnya manfaat bagi manusia (utility=manfaat)
  4. Aliran etika idealisme, yaitu aliran yg menilai baik dan buruknya perbuatan manusia janganlah terikat pada sebab-musabab lahir tetapi haruslah berdasarkan pada prinsip kerohanian (idea) yg lebih tinggi.
  5. Aliran etika vitalisme, yaitu aliran yg menilai baik-buruknya perbuatan manusia itu sebagai ukuran ada atau tidaknya daya hidup (vital) yg maksimum mengendalikan perbuatan itu.
  6. Alliran etika theologis, yaitu aliran yg berkeyakinan bahwa ukuran baik-buruknya perbuatan manusia itu dinilai dg sesuai atau tidaknya dg perintah Tuhan (theos=Tuhan).
c. Aliran-aliran teori pengetahuan
Aliran ini mencoba untuk menjawab pertanyaan, bagaimana manusia mandapat pengetahuannya sehingga pengetahuan itu benar dan berlaku. Pertama golongan yg mengemukakan asal atau sumber pengetahuan. Termasuk didalamnya;
  1. Rationalisme, yaitu aliran yg mengemukakan bahwa sumber pengetahuan manusia adalah pikiran, rasio dan jiwa manusia.
  2. Empirisme, yaitu aliran yg mengatakan bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari pengalaman manusia dari luar yg ditangkap pancaindranya.
  3. Kritisisme (transendentalisme), yaitu aliran yg berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu berasal dari luar maupun dari jiwa manusia itu sendiri.
Golongan yg kedua, mengemukakan hakikat pengetahuan manusia. Termasuk didalamnya;
  1. Realisme, yaitu aliran yg berpendirian bahwa pengetahuan manusia itu adalah gambar yg baik dan tepat dari kebenaran dalam pengetahuan yg baik, tergambarkan seperti sungguh-sungguh adanya.
  2. Idealisme, yaitu aliran yg berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu tidak lain daripada kejadian dalam jiwa manusia, sedangakan kenyataan yg diketahui manusia itu apa yg terletak diluarnya.
d. Aliran-aliran lainnya dalam filsafat
Disamping aliran-aliran diatas masih banyak aliran yg lain yg berkembang dan dianut oleh para filsuf. Diantaranya yaitu;
  1. Eksistensialisme, yaitu aliran yg berpendirian bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia yg konkret, yaitu manusia sebagai eksistensi dan sehubungan dg titik tolak ini maka bagi manusia eksistensi itu mendahului esensi.
  2. Pragmatisme, yaitu aliran yg beranggapan bahwa benar dan tidaknya sesuatu ucapan, dalil atau teori, semata-mata bergantung pada berfaedah atai tidaknya ucapan, dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak didalam kehidupannya.
  3. Fenomenologi, yaitu aliran yg berpendapat bahwa hasrat yg kuat untuk mengerti yg sebenarnya dan keyakinan bahwa pengertian itu dapat dicapai jika kita mengamati fenomena atau pertamuan kita dg realitas.
  4. Positivisme, yaitu aliran yg berpendirian bahwa filsafat hendaknya semata-mata berpangkal pada peristiwa yg positif, artinya peristiwa-peristiwa yg dialami manusia.
  5. Aliran filsafat hidup, yaitu aliran yg berpendapat bahwa berfilsafat barulah mungkin jika rasio dipadukan dg seluruh kepribadian sehingga filsafat itu tidak hanya hal yg mengenai bepikir saja tetapi juga mengenai yg ada, yg mengikutkan kehendak, hati dan iman, dg kata lain seluruh hidup.

Readmore »»

Minggu, 14 Februari 2010

Filasafat (Kedudukannya sebagai Ilmu)

Filsafat dalam kedudukannya sebagai Ilmu, mengingat sifatnya yg universal maka filsafat merupakan Induk yg mencakup semua ilmu khusus. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya ilmu-ilmu khusus itu satu demi satu memisahkan diri dari induknya, filsafat. Mula-mula matematika dan fisika melepaskan diri, kemudian diikuti oleh ilmu-ilmu lain. Namun demikian filsafat tetap menjadi sebuah kajian yg selalu menjadi muara yg memecahkan persoalan-persoalan yg tidak mampu dijawab oleh ilmu-ilmu khusus. Pembahasan filsafat kali ini akan membicarakan mengenai cabang-cabang filsafat untuk mengetahui apa saja yg masih menjadi bagian dari filsafat yg menjadikannya istimewa sebagai induk dari ilmu-ilmu yg lain.


Ahli filsafat biasanya mempunyai pembagian yg berbeda-beda. Berikut ini pembagian cabang-cabang filsafat yg dikemukakan oleh beberapa filsuf :
  1. H. De Vos, menggolongkan filsafat sebagai berikut; Metafisika; Logika; ajaran tentang Ilmu Pengetahuan; Filsafat Alam; Filsafat Sejarah; Etika; Estetika dan Antropologi.
  2. Prof. Albuerey Castell membagi masalah-masalah filsafat menjadi enam; masalah teologis; masalah metafisika; masalah epistimologi; masalah etika; masalah politik dan masalah sejarah.
  3. Dr. Richard H. Popkin dan Dr. Avrum Astroll dalam buku mereka, philoshopy made simple, membagi pembahasan mereka ke dalam tujuh bagian; Ethics,;Political Philoshophy; Metaphysics; Philoshopy of Religion; Theory of Knowledge; Logics; Contepmporary Philoshophy.
  4. Dr. M. J. Langeveld mengatakan filsafat adalah ilmu kesatuan yg terdiri atas tiga lingkungan masalah; lingkungan masalah keadaan (metafisika manusia, alam dan seterusnya); lingkungan masalah pengetahuan (teori kebenaran, teori pengetahuan, logika); lingkungan masalah nilai (teori nilai etika, estetika yg bernilai berdasarkan religi)
  5. Aristoteles, murid Plato mengadakan pembagian secara konkret dan sistematis menjadi empat cabang; Logika, ilmu ini dianggap sebagai ilmu pendahuluan bagi filsafat; Filsafat teoritis, cabang ini mencakup: ilmu fisika yg mempersoalkan dunia materi dari alam nyata, ilmu matematika yg mempersoalkan hakikat segala sesuatu dalam kuantitasnya dan ilmu metafisika yg mempersoalkan hakikat segala sesuatu (inilah yg paling utama dalam filsafat); Filsafat praktis, cabang ini mencakup: ilmu etika yg mengatur kesusilaan dan kebahagiaan dalam hidup perseorang, ilmu ekonomi yg mengatur kesusilaan dan kemakmuran dalam negara; Filsafat poetika/kesenian.
Pembagian Aristoteles ini merupakan permulaan yg baik sekali bagi perkembangan filsafat sebagai suatu ilmu yg dapat dipelajari secara runtut. Ajaran Aristoteles sendiri, terutama ilmu logika hingga sekarang masih menjadi contoh-contoh filsafat klasik yg dikagumi dan dipergunakan.

Walaupun pembagian ahli yg satu dg yg lain tidak sama, namun kita bisa melihat lebih banyak persamaan daripada perbedaan. Dari pandangan para ahli tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa filsafat dalam coraknya yg istimewa ini mempunyai beberapa pokok bahasan yaitu, metafisika, logika, etika, estetika, epistemologi, dan filsafat-filsafat khusus.
  1. Metafisika: filsafat tentang hakikat yg ada di balik fisika, hakikat yg bersifat transenden, diluar jangkauan pengalaman manusia
  2. Logika: filsafat tentang pikiran yg benar dan yg salah
  3. Etika: filsafat tentang perilaku yg baik dan buruk
  4. Estetika: filsafat tentang kreasi yg indah dan yg jelek
  5. Epistemologi; filsafat tentang ilmu pengetahuan
  6. Filsafat-filsafat khusus lainya: filsafat agama, filsafat manusia, filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat alam, filsafat pendidikan dsb
Seperti yg telah diuraikan sebelumnya, filsafat sangat luas lapangan pembahasannya yg tujuannya ialah mencari hakikat kebenaran dari segala sesuatu, baik dalam kebenaran berpikir (logika), berperilaku (etika) maupun dalam mencari hakikat atau keaslian (metafisika). Maka persoalannya menjadi apakah sesuatu itu hakiki (asli) atau palsu (maya).

Dari tinjauan diatas dapat kita ambil secara garis besar bahwa dalam tiap-tiap pembagian cabang filsafat sejak jaman Aristoteles hingga dewasa ini bahasan-bahasan yg paling utama dalam ilmu filsafat selalu berputar di sekitar logika, metafisika dan etika. Inilah yg pada akhirnya membentuk aliran-aliran filsafat yg berkembang dalam masyarakat yg selanjutnya akan saya sampaikan sebagai pokok bahasan tersendiri.

Readmore »»

Sabtu, 13 Februari 2010

Cara Mempelajari Filsafat

Sangat luasnya pembahasan mengenai filsafat, maka menjadi sukar pula orang mempelajarinya, dari mana hendak dimulai dan bagaimana cara membahasnya agar orang yg mempelajarinya segera mengetahui dan bisa memahaminya. Dalam sesi ketiga pembahasan filsafat ini saya akan menunjukkan cara atau metode yg lazim digunakan dalam mempelajari filsafat dan tanpa bermaksud untuk menggurui karena ulasan ini sangat penting untuk kita pahami demi mempermudah kajian filsafat berikutnya.

Pada jaman modern ini umumnya orang telah sepakat untuk mempelajari ilmu filsafat itu dengan dua cara, yaitu dg mempelajari sejarah perkembangan sejak dahulu kala hingga sekarang (metode historis) dan dengan cara mempelajari isi atau lapangan pembahasannya yg diatur dalam bidang-bidang tertentu (metode sistematis).


Dalam metode historis orang mempelajari perkembangan aliran-aliran filsafat sejak dahulu kala hingga sekarang. Disini dikemukakan riwayat hidup tokoh-tokoh filsafat di segala masa, bagaimana tmbulnya aliran filsafatnya tentang logika, tentang metafisika, tentang etika dan tentang keagamaan. Seperti juga pembicaraan tentang jaman purba dilakukan secara berurutan (kronologis) menurut waktu masing-masing.

Dalam metode sistematis orang membahas langsung isi persoalan ilmu filsafat itu dg tidak mementingkan urutan jaman perjuangannya masing-masing. Orang membagi persoalan ilmu filsafat itu dalam bidang-bidang tertentu. Misalnya dalam bidang logika dipersoalkan mana yg benar dan mana yg salah menurut pertimbangan akal, bagaimana cara berpikir yg benar dan mana yg salah. Kemudian dalam bidang etika dipersoalkan tentang manakah yg baik dan manakah yg buruk dalam perbuatan manusia yg tidak membicarakan persoalan-persoalan logika atau metafisika. Dalam metode sistematis ini para filsuf kita saling berkonfrontasi satu sama lain dalam bidang-bidang tertentu. Misalnya dalam soal etika kita konfrontasikan saja pendapat-pendapat filsuf jaman klasik (Plato dan Aristoteles) dg pendapat filsuf jaman pertengahan (Al-Farabi atau Thimas Aquinas) dan pendapat filsuf jaman sekarang 'aufklarung' (Immanuel Kant dan lain-lain) dg pendapat-pendapat filsuf dewasa ini (Jaspers dan Marcel) dg tidak usah mempersoalkan aturan periodesasi masing-masing. Cara atau metode ini juga digunakan dalam mengkaji soal-soal logika maupun metafisika dan lain-lain.

Readmore »»

Jumat, 12 Februari 2010

Filsafat (Tujuan, Manfaat dan Kepentingannya)

Bahasan selajutnya mengenai filsafat sebagai sebuah kajian keilmuan...bagi saya akan selalu membawa tujuan, manfaat dan kepentingannya sendiri. Jadi pada kesempatan kedua ini saya akan memaparkan beberapa pemikiran para filsuf mengenai apa tujuan filsafat dan kepentingannya. Sehingga kita akan mendapat gambaran tentang apa yg ingin dicapai dengan mempelajari filsafat dan lebih dalam lagi bisa diterapkan dg tepat.

Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah kontrol dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan, bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisdom).

Dr. Oemar A. Hosein mengatakan, Ilmu memberi kepada kita pengetahuan dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yg tersusun dg tertib akan kebenaran.


S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya, Filsafat itu dapat memberikan ketenangan pikiran dan kemantaban hati, sekalipun menghadapi maut. Dalam tujuannya yg tunggal (yaitu kebenaran) itulah letaknya kebesaran, kemuliaan, malahan kebangsawanan filsafat diantara kerja manusia yg lain. Kebenaran dalam arti yg sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya baginya, itulah tujuan yg tertinggi dan satu-satunya. Bagi manusia, berfilsafat itu berarti mengatur hidupnya seinsyaf-insyafnya, senetral-netralnya dg perasaan tanggungjawab terhadap dasar hidup yg sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam ataupun kebenaran.

Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy, menyebutkan : Tugas filsafat bukanlah sekedar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menompang dunia baru, mencetak manusia-manusia yg menjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan "nation", ras dan keyakinan keagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan. Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya.

Berbeda dg pendapat Soemadi Soerjabrata, yaitu mempelajari filsafat adalah untuk mempertajam pikiran, maka H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya untuk cukup diketahui, tetapi harus diperaktekkan dalam hidup sehari-hari. Orang mengharapkan bahwa filsafat akan memberikan kepadanya dasar-dasar pengetahuan yg dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup agar dapat menjadi manusia yg baik dan bahagia.

Studi filsafat harus membantu orang-orang untuk membangun keyakinan keagamaan atas dasar yg matang secara intelektual. Filsafat dapat mendukung kepercayaan keagamaan seseorang, asal saja kepercayaan tersebut tidak bergantung pada konsepsi prailmiah yg usang, yg sempit dan yg dogmatis. Urusan (concern) utama agama ialah harmoni, pengaturan, ikatan, pengabdian, perdamaian, kejujuran, pembebasan dan Tuhan.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan utama filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun hakikat keaslian (metafisik).

Akhirnya sepatah kata tentang manfaat dan kepentingan filsafat. Filsafat sering dianggap teori belaka, yg jauh dari kenyataan hidup konkret akan tetapi, filsafat ada segi praktisnya juga. Kebijaksanaan tidak hanya berarti "pengetahuan yg mendalam", tetapi juga "sikap hidup yg benar", yg tepat sesuai dg pengetahuan yg telah dicapai itu. Hal ini nampak jelas terutama pada kajian etika dan logika yg bersama-sama memberikan pegangan dan bimbingan kepada pikiran dan kepada kehendak, agar hidup dg 'benar' dan 'baik' maka konkitnya manfaat dan kepentingan filsafat dapat disimpulkan dalam beberapa point disini :
  1. Filsafat menolong mendidik, membangun diri kita sendiri: dengan berpikir lebih mendalam, kita mengalami dan menyadari kerohanian kita. Rahasia hidup yg kita selidiki justru memaksa kita untuk berpikir untuk hidup sesadar-sadarnya dan memberikan isi kepada hidup kita sendiri
  2. Filsafat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari. Orang yg hidup secara "dangkal" saja, tidak mudah melihat persoalan-persoalan, apalagi memecahkannya. Dalam filsafat kita dilatih melihat dulu apa yg menjadi persoalan dan ini merupakan syarat mutlak untuk memecahkannya.
  3. Filsafat memberikan pandangan yg luas, membendung "akuisme" dan "aku-sentrisme" (dalam hal hanya melihat dan mementingkan kepentingan dan kesenangan si aku).
  4. Filsafat merupakan latihan untuk berpikir sendiri, hingga kita tak hanya ikut-ikutan saja, membuntut pada pandangan umum, percaya akan setiap semboyan dalam surat kabar, tetapi secara kritis menyelidiki apa yg dikemukakan orang, mempunyai pendapat sendiri, "berdiri-sendiri" dg cita-cita mencari kebenaran.
  5. Filasafat memberikan dasar-dasar, baik untuk hidup kita sendiri (terutama dalam etika) maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan dan lainnya seperti sosiologi, ilmu jawa, ilmu mendidik dan sebagainya.


Readmore »»

Kamis, 11 Februari 2010

Filsafat (Terminologi)

Memberikan rumusan yg pasti tentang apa yg termuat dalam kata "filsafat" adalah suatu pekerjaan yg terlalu berani dan sombong! maka saya akan memulai dari sini. Memang, para peminat filsafat, kita sulit mendefinisikan kata yg satu ini. Bahkan para filsuf (ahli filsafat) pun mengakuinya. Apa yg membuatnya demikian adalah oleh karena terdapatnya beragam-ragam paham, metode dan tujuan yg dianut, ditempuh dan dituju oleh masing-masing filsuf. Namun sebuah pengertian awal mesti diberikan; maksutnya sebagai kompas agar kita tidak tersesat arah didalam memahami filsafat. Mengingat maksut ini maka pengertian tersebut haruslah bersifat dapat dipahami sebanyak-banyak orang, sehingga dapat dijadikan tempat berpijak bersama.


Kita coba menilik dahulu kata "filsafat" ini dari akar katanya, dari mana kata ini datang. Kata "filsafat" berasal dari bahasa Yunani, philosophia: philein artinya cinta, mencintai, philos pecinta, shopia kebijaksanaan atau hikmat. Jadi filsafat artinya"cinta akan kebijaksanaan". Cinta artinya hasrat yg besar atau yg berkobar-kobar atau yg sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya kebenaran sejati atau kebenaran yg sesungguhnya. Filsafat berarti hasrat atau keinginan yg sungguh akan kebenaran sejati. begitulah arti filsafat pada mulanya.

Dari arti diatas, kita kemudian dapat mengerti filsafat secara umum. Filsafat adalah suatu ilmu, meskipun bukan ilmu Vak biasa, yg berusaha menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran. Bolehlah filsafat disebut sebagai: suatu usaha untuk berpikir yg radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yg mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Dalam pemahaman yg lebih bahwa tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-suggguh. Sebuah semboyan mengatakan bahwa "setiap manusia adalah filsuf" semboyan ini benar jika ditilik dari keumuman bahwa manusia berpikir, akan tetapi secara khusus semboyan itu tidak benar sebab tidak semua manusia yg berpikir adalah filsuf sebab filsuf hanyalah orang yg memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam dimana hal yg membawa usahanya itu kepada suatu kesimpulan universal dari kenyataan partikular atau khusus, dari hal yg tersederhana sampai yg terkompleks.

Filsafat, " ilmu tentang hakikat". Disinilah kita memahami perbedaan mendasar antara "filsafat" dan "ilmu (spesial)" atau "sains". Ilmu membatasi wilayahnya sejauh alam yg dapat dialami, dapat diindera atau alam empiris. Ilmu menghadapi soalnya dg pertanyaan "bagaimana" dan "apa sebabnya".
Filsafat mencakup pertanyaan-pertanyaan mengenai makna, kebenaran dan hubungan logis diantara ide-ide dasar (keyakinan, asumsi dan konsep) yg tidak dapat dipecahkan dg ilmu empiris. Philosophy: Inquiry into the nature of things based on logical reasoning rather than empirical methods (the Grolier Int. Dict.) Filsafat meninjau dengan pertanyaan"apa itu","dari mana" dan "kemana". Di sini orang tidak mencari pengetahuan sebab dan akibat dari suatu masalah, seperti yg diselidiki ilmu, melainkan orang mencari tahu tentang "apa yg sebenarnya" pada barang atau masalah itu, dari mana terjadinya ke mana tujuannya. Maka jika para filsuf ditanyai, "mengapa A percaya pada akan Allah", meraka tidak akan berusaha untuk menjawab misalnya dg jawaban...."karena A telah dikondisikan oleh pendidikan di sekolahnya untuk percaya kepada Allah" atau "Karena A kebetulan sedang gelisah dan ide tentang suatu figur bapak membuatnya tentram". Sekali lagi dalam hal ini, para filsuf tidak berurusan dengan sebab-sebab, melainkan dengan dasar-dasar yg mendukung atau menyangkal pendapat tentang keberadaan Allah. Tugas filsafat menurut Socrates (470-399 S.M) bukan menjawab pertanyaan-pertanyaan yg timbul dalam kehidupan melainkan mempersoalkan jawaban yg diberikan.
Sampai dg kedua pengertian diatas, kita akan coba simak apa kata Kattsoff (1963) di dalam bukunya Elements of Philosophy untuk melengkapi pengertian kita tentang filsafat :
  • Filsafat adalah berpikir kritis
  • Filsafat adalah berpikir dalam bentuk sistematis
  • Filsafat harus menghasilkan sesuatu yg runtut
  • Filsafat adalah berpikir secara rasional
  • Filsafat harus bersifat komprehensif
Kemudian Windelband seperti dikutip Hatta dalam pendahuluan Alam pikiran Yunani, "Filsafat sifatnya merentang pikiran sampai sejauh-jauhnya tentang suatu keadaan atau hal yg nyata." Pengertian lain menurut Magnis, "Filsafat sebagai usaha tertib, methodis yg dipertanggungjawabkan secara intelektual untuk melakukan apa yg sebetulnya diharapkan dari setiap orang yg tidak hanya mau membebek saja, yg tidak hanya mau menelan mentah-mentah apa yg sudah dikunyah sebelumnya oleh pihak-pihak lain. yaitu untuk mengerti, memahami, mengartikan, menilai, mengkritik data-data dan fakta-fakta yg dihasilkan dalam pengalaman sehari-hari dan melalui ilmu-ilmu."

Filsafat sebagai latihan untuk belajar mengambil sikap, mengukur bobot dari segala macam pandangan yg dari pelbagai penjuru ditawarkan pada kita. Beberapa ilustrasi yg bisa saya sampaikan untuk memberi pemahaman konkrit pemikiran filsafat yaitu misalnya, kalau kita disuruh membangun masyarakat, filsafat akan membuka implikasi suatu pembangunan yg misalnya hanya mementingkan kerohanian sebagai ideologi karena manusia itu memang bukan hanya rohani saja atau kalau pembangunan hanya materialnya dan hanya mengenai prasarana-prasarana fisik saja, filsafat akan bertanya sejauh mana pembangunan itu akan menambah harapan manusia konkrit dalam masyarakat untuk merasa bahagia. Kemudian dalam situasi lain misalnya kalau pelbagai otoritas dalam masyarakat mau mewajibkan sesuatu kepada kita, filsafat dapat membantu kita dalam mengambil sikap yg dewasa dg mempersoalkan hak dan batas mereka untuk mewajibkan sesuatu. Lalu selanjutnya terhadap therm ideologi kemajuan, maka filsafat akan mempersoalkan apa arti kemajuan itu bagi manusia. Atau dalam therm "orang yg mau mengekang kebebasan kita atas nama Tuhan yang Mahaesa," filsafat akan menarik perhatian kita pada fakta bahwa yg mau mengekang itu hanyalah manusia saja yg mengatasnamakan Tuhan dan bahwa Tuhan tidak pernah identik dg suara manusia begitu saja. (Frans Magnis-Suseno, Berfilsafat dari Konteks, Jakarta, Gramedia, 1999).

Untuk menutup pemahaman awal kita mengenai terminologi"filsafat", bisa dicatat nuansa perbedaan arti"filsafat" dengan istilah-istilah yg hampir serupa dg ini antara lain:"falsafah", "falsafi", "berpikir filosofis" dan "mempunyai filsafat hidup" yg sering kita dengar, kita baca atau bahkan mungkin kita pakai dalam keseharian kita.
"Falsafah" itu tidak lain filsafat itu sendiri.
"Falsafi"atau"filsafati" artinya : "bersifat sesuai dg kaidah-kaidah filsafat".
"Berpikir filosofis", sesungguhnya begini : berpikir dg dasar cinta akan kebijaksanaan. Bijaksana adalah sifat manusia yg muncul sebagai hasil dari usahanya untuk berpikir benar dan berkehendak baik. Berpikir benar saja ternyata belum mencukupi. Dapat saja orang berpikir bahwa memfitnah adalah tindakan jahat, akan tetapi dapat pula ia tetap memfitnah karena meskipun diketahuinya itu jahat, namun ia tidak menghendaki untuk tidak melakukannya. cara berpikir filosofis adalah berusaha untuk mewujudkan gabungan antara keduanya, berpikir benar dan berkehendak baik.
Sedangkan "mempunyai filsafat hidup" mempunyai pengertian yg lain sama sekali dg pengertian "filsafat" yg pertama. Ia bisa diartikan mempunyai suatu pandangan, seperangkat pedoman hidup atau nilai-nilai tertentu. Misalnya, seseorang mungkin mempunyai filsafat (pandangan hidup) untuk "tujuan menghalalkan segala cara."

Demikianlah pemahaman awal mengenai Filsafat yg bisa saya uraikan dengan berpijak pada pengertian mendasar secara terminologi dan bayangan bahwa mempelajari filsafat adalah hal yg sukar atau suatu pemikiran yg hanya dilakukan oleh seorang profesor yg botak, dg kacamata tebal dan sedikit linglung, sebetulnya hanya ketakutan yg tidak berdasar karena filsafat sebetulnya adalah hal yg bisa kita jumpai dalam keseharian yg mungkin tanpa kita sadari bahwa dalam hidup pernah kita berpikir secara filsafati.


Readmore »»